Akun
guest@beritabali.com
Beritabali ID: —
Langganan
Beritabali Premium Aktif
Nikmati akses penuh ke semua artikel dengan Beritabali Premium
- Rabu, 28 Oktober 2026
'Tika', Kalender Tua Unik dari Kayu
BERITABALI.COM, JEMBRANA.
Unik, langka dan kuno, itulah gambaran kalender yang terbuat dari kayu berwarna hitam berukuran 7X20 cm, milik Dewa Komang Budiana (45) warga Banjar Pangkung Languan Mekar, Desa Yehsumbul, Mendoyo. Kalender tersebut merupakan kalender langka yang sangat jarang dimiliki warga, umurnya saat ini berkisar 300 tahun dan merupakan peninggalan leluhurnya.
Kalender milik Budiana, tergolong unik karena tidak sama dengan kalender seperti saat ini yang menggunakan angka-angka. Namun kalender yang terbuat dari kayu tersebut merupakan kalender Bali dengan menggunakan tanda kusus, seperti, titik, lingkaran dan tanda kali serta garis. Pemilik kalender tersebut mengaku tidak mengerti makna yang terkandung dalam kalender tersebut.
“ Sedikitpun saya tidak mengerti apa makna simbul dalam kalender tersebut, yang jelas menurut bapak saya, kalender ini sudah ada saat kakek buyut saya masih hidup,” terang Budiana, Senin (22/7/2013).
Menurutnya karena kalender tersebut berumur ratusan tahun dan mengandung nilai sejarah, dirinya masih tetap menyimpan kalender tersebut di tempat yang aman dan terus di rawat.
“ Menurut bapak saya, kalender tersebut sudah digunakan oleh kakek bapak saya. Sedangkan kakek bapak saya meninggal diusia 115 tahun lebih, kemudian
digunakan oleh kakek saya dan meninggal diusia 105 tahun. Kemudian kalender itu di rawat bapak saya sampai meninggal diusia 80 tahun. Sekarang saya yang merawatnya dan saat ini umur saya sudah 45 tahun, berarti umur kalender tersebut 300 tahun lebih,” ujarnya.
Karena itulah Budiana bertekad untuk tetap merawat karya leluhurnya sampai kapan pun.Disamping itu kalender tersebut juga kondisinya masih utuh dan sama sekali tidak di makan rayap.
“ Kalaupun ada kolektor yang mau membeli kalender tersebut, saya masih pikir-pikir karena ini merupakan peninggalan leluhur saya,” terangnya.
Sementara itu Dewa Putu Suanda (91) salah seorang Sulinggih asal Desa Yehembang Kangin, Mendoyo mengatakan, Kalender tersebut oleh orang Bali kuno disebut “Tika” yang berarti hitungan. Tika tersebut digunakan oleh orang Bali kuno untuk mengetahui hari-hari baik dalam Agama Hindu. Menurut Suanda, tidak banyak orang Bali yang mampu membuat dan mengartikan kalender tersebut karena perhitungannya sangat matang.
Metode yang digunakan dalam kalender tersebut adalah menggunakan metode “Wuku” dimana 30 baris mendatar merupakan urutan wuku seperti, Sinto, Landep, Ukir, Kulantir dan seterusnya.
Sedangkan tujuh baris menurun merupakan hari seperti, Redite, Soma hingga Caniscare. Membaca simbul-simbul dari kalender atau Tika tersebut, masih diperlukan keahlian menghitung dan untuk memahami cara perhitungannya harus belajar secara khusus.
“ Memahami kalender tersebut, tidak bisa hanya mendengarkan penjelasan langsung, tetapi perlu belajar khusus dan itu membutuhkan waktu yang lama,” jelasnya.
Lebih lanjut Suanda menjelaskan, kalender tersebut menandakan bahwa masyarakat Bali yang hidup ratusan tahun yang lalu, sudah berpikiran maju, kreatif dan pinter dan kuat daya ingat dan mampu menghitung hitung-hitungan yang belum tentu orang Bali di jaman modern bisa lakukan.
“ Yang jelas kalau ingin mengerti tentang kalender tersebut, membutuhkan waktu lama untuk belajar. Dulu kalender tersebut banyak di gunakan oleh orang Bali jaman kuno karena belum ada kalender seperti sekarang. Tapi sekarang untuk mencari peninggalan leluhur tersebut di Bali sangatlah sulit,” pungkasnya. (Jsp)
Reporter: bbn/sin
Berita Terpopuler
Mess di Panjer Diserang 19 Orang, Empat Pemuda Luka
Dibaca: 5944 Kali
Perempuan 36 Tahun Akhiri Hidup di Kamar Kos Tulikup Gianyar
Dibaca: 4657 Kali
Rem Blong, Dua Pria Tewas Kecelakaan di Sukasada
Dibaca: 2631 Kali
Telkom Resmi Spin-Off Infrastruktur Fiber ke InfraNexia
Dibaca: 2285 Kali
Menkum Dorong WIPO Buat Standar Global Royalti, Karya AI Tak Dilindungi
Dibaca: 2224 Kali
ABOUT BALI
Misteri Lontar Lombok yang Tersimpan di Museum Dukuh Penaban Karangasem
Nyenuk Ngingkup di Tampaksiring Kembali Digelar Setelah 48 Tahun
Guruh Sudah Meramal Overtourism Bali pada Lagu "Chopin Larung" 1975
Ban Truk Meledak, Sopir Tewas di Rest Area Pekutatan